TINJAUAN SOSIOLOGIS TENTANG HUBUNGAN KIAI SANTRI DAN FUNGSI JARINGAN ALUMNI DALAM TRADISI PESANTREN
Main Article Content
Abstract
Sociologically, the relationship between kiai and santri in Islamic boarding schools (pesantren) transcends a mere teacher-student dynamic, forming a distinctive patron-client pattern. As a patron, the kiai provides education, mentorship, and facilities that create dependency, thereby cultivating an attitude of respect and absolute obedience known as sami’na wa atha’na from the santri within a personal, asymmetric, and enduring bond. On the other hand, the resilience of the pesantren tradition is also underpinned by alumni networks functioning as strategic social capital. These networks allow graduates to assist one another in accessing employment, business capital, and professional support, while simultaneously preserving pesantren values and identity within the broader society. Utilizing a qualitative-descriptive library research method, this study demonstrates that the kiai-santri patronage, supported by a charismatic power structure, and the alumni network operating as collective social capital, mutually complement each other. In conclusion, the synergy between the unique internal kiai-santri relationship and the external solidarity of alumni constitutes the primary sociological foundation maintaining the sustainability of the pesantren tradition.
Keywords: pesantren; kiai–santri; patron–client; alumni network; social capital; tradition.
Abstrak :
Hubungan antara kiai dan santri di pesantren secara sosiologis melampaui sekadar relasi guru-murid, melainkan membentuk pola hubungan patron-klien yang khas. Sebagai patron, kiai menyediakan pengajaran, pengasuhan, dan fasilitas yang menciptakan ketergantungan, sehingga melahirkan sikap hormat dan ketaatan mutlak atau sami’na wa atha’na dari santri dalam sebuah ikatan yang personal, asimetris, dan berjangka panjang. Di sisi lain, kekuatan tradisi pesantren juga ditopang oleh jaringan alumni yang berfungsi sebagai modal sosial strategis. Jejaring ini memungkinkan lulusan saling membantu dalam membuka akses pekerjaan, modal usaha, dan dukungan profesional, sekaligus mempertahankan nilai-nilai serta identitas pesantren di tengah masyarakat. Melalui metode studi kepustakaan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menunjukkan bahwa patronase kiai-santri yang didukung oleh struktur kekuasaan karismatik, serta jaringan alumni yang beroperasi sebagai modal sosial kolektif, saling melengkapi satu sama lain. Kesimpulannya, sinergi antara keunikan relasi internal kiai-santri dan solidaritas eksternal alumni merupakan fondasi sosiologis utama yang menjaga keberlangsungan tradisi pesantren.
Article Details
Section
Articles

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
References
Achmadin, B. Z. (2024a). Dismantling the relationship between kiai and santri: A critical review... JRTIE, 7(2), 153–185.
Achmadin, B. Z. (2024b). Dismantling the relationship between kiai and santri: A critical review of the social and cultural dynamics of pesantren in East Java. JRTIE, 7(2), 153–185.
Anam, R. K. (2025). Sociology of Ereignis: A New Ontological Foundation for Prophetic Social Science. Jurnal Sosiologi Reflektif, 20(1), 31-62. https://doi.org/10.14421/k30v0343
Coleman, J. S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of Sociology.
Dhofier, Z. (1982a). Tradisi pesantren. LP3ES.
Dhofier, Z. (1982b). Tradisi Pesantren: Studi tentang hubungan ulama dan santri di Indonesia. LP3ES.
Fikri, A. (2019). Patron-client relationship in Indonesian Islamic boarding schools. Indonesian Journal of Islamic Studies, 7(3), 145–162.
Juliyani, E. (2023). Peran alumni dalam pengembangan ekonomi pondok pesantren Sunan Drajat. Al Maqashid, 3(1), 23–36.
Kafid, N. (2017). Modernisasi pesantren dan tantangan hubungan kiai-santri. Tadris, 12(2), 112–128.
Mansurnoor, A. (1990). Islam in an Indonesian World: Ulama of Madura. LKiS.
Munawwir, M. (2019). Relasi sosial kiai dan santri dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 45–60.
Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
Rahmawati, S. (2021). Jaringan alumni pesantren dan kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat. Inferensi, 15(2), 255–275.
Siswanto, I., & Yulita, E. (2018). Eksistensi pesantren dengan budaya patronase (hubungan kiai dan santri). Mitra Ash-Shibyan, 2(1), 87–106.
Wahono, M., Budimansyah, D., Malihah, E., & Fitriasari, S. (2023). Peran modal sosial santri dalam menghadapi dampak globalisasi: Studi kasus Pesantren Buntet. Society: Jurnal Ilmu Sosial, 11(2), 377–397.
Azizah, Nur, and Sugiono Sugiono. 2025. “Social Modalities of Kiai in the Development of Islamic Boarding School.” Jemr 4(1):68–81. doi: 10.61987/jemr.v4i1.783.
Harnadi, Dodik, Hotman Siahaan, and Masdar Hilmy. 2021. “Pesantren and the Preservation of Traditional Religious Authority in the Digital Age.” Masyarakat Kebudayaan Dan Politik 34(3):272. doi: 10.20473/mkp.v34i32021.272-280.
Kutsiyah, Farahdilla, Lukmanul Hakim, and Ummu Kalsum. 2020. “Kelekatan Modal Sosial Pada Keluarga Santri Di Pulau Madura.” Palita Journal of Social - Religion Research 5(2):183–203. doi: 10.24256/pal.v5i2.1399.
Marzuki, Marzuki, Miftahuddin Miftahuddin, and Mukhamad Murdiono. 2020. “Multicultural Education in Salaf Pesantren and Prevention of Religious Radicalism in Indonesia.” Jurnal Cakrawala Pendidikan 39(1):12–25. doi: 10.21831/cp.v39i1.22900.
Nurhadi, Imam. 2018. “PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PONDOK PESANTREN UNTUK MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT: Studi Kasus Pemberdayaan Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Munjungan.” Al-Idarah Jurnal Kependidikan Islam 8(1):142. doi: 10.24042/alidarah.v8i1.3085.
RAHMAWATI, IFAH. 2022. “The Tradition of Reading Wirid Surat Al-Fatihah as a Gift on the Birthday of Kyai at Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Sampangan Pekalongan.” doi: 10.31219/osf.io/qcnu5.
Sadiah, Dewi. 2022. “Developing Pesantren Education Quality Through Radicalism Prevention Program for Santri.” Jurnal Pendidikan Islam 8(1):63–74. doi: 10.15575/jpi.v8i1.17947.
Main Article Content
Abstract
Sociologically, the relationship between kiai and santri in Islamic boarding schools (pesantren) transcends a mere teacher-student dynamic, forming a distinctive patron-client pattern. As a patron, the kiai provides education, mentorship, and facilities that create dependency, thereby cultivating an attitude of respect and absolute obedience known as sami’na wa atha’na from the santri within a personal, asymmetric, and enduring bond. On the other hand, the resilience of the pesantren tradition is also underpinned by alumni networks functioning as strategic social capital. These networks allow graduates to assist one another in accessing employment, business capital, and professional support, while simultaneously preserving pesantren values and identity within the broader society. Utilizing a qualitative-descriptive library research method, this study demonstrates that the kiai-santri patronage, supported by a charismatic power structure, and the alumni network operating as collective social capital, mutually complement each other. In conclusion, the synergy between the unique internal kiai-santri relationship and the external solidarity of alumni constitutes the primary sociological foundation maintaining the sustainability of the pesantren tradition.
Keywords: pesantren; kiai–santri; patron–client; alumni network; social capital; tradition.
Abstrak :
Hubungan antara kiai dan santri di pesantren secara sosiologis melampaui sekadar relasi guru-murid, melainkan membentuk pola hubungan patron-klien yang khas. Sebagai patron, kiai menyediakan pengajaran, pengasuhan, dan fasilitas yang menciptakan ketergantungan, sehingga melahirkan sikap hormat dan ketaatan mutlak atau sami’na wa atha’na dari santri dalam sebuah ikatan yang personal, asimetris, dan berjangka panjang. Di sisi lain, kekuatan tradisi pesantren juga ditopang oleh jaringan alumni yang berfungsi sebagai modal sosial strategis. Jejaring ini memungkinkan lulusan saling membantu dalam membuka akses pekerjaan, modal usaha, dan dukungan profesional, sekaligus mempertahankan nilai-nilai serta identitas pesantren di tengah masyarakat. Melalui metode studi kepustakaan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menunjukkan bahwa patronase kiai-santri yang didukung oleh struktur kekuasaan karismatik, serta jaringan alumni yang beroperasi sebagai modal sosial kolektif, saling melengkapi satu sama lain. Kesimpulannya, sinergi antara keunikan relasi internal kiai-santri dan solidaritas eksternal alumni merupakan fondasi sosiologis utama yang menjaga keberlangsungan tradisi pesantren.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
References
Achmadin, B. Z. (2024a). Dismantling the relationship between kiai and santri: A critical review... JRTIE, 7(2), 153–185.
Achmadin, B. Z. (2024b). Dismantling the relationship between kiai and santri: A critical review of the social and cultural dynamics of pesantren in East Java. JRTIE, 7(2), 153–185.
Anam, R. K. (2025). Sociology of Ereignis: A New Ontological Foundation for Prophetic Social Science. Jurnal Sosiologi Reflektif, 20(1), 31-62. https://doi.org/10.14421/k30v0343
Coleman, J. S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of Sociology.
Dhofier, Z. (1982a). Tradisi pesantren. LP3ES.
Dhofier, Z. (1982b). Tradisi Pesantren: Studi tentang hubungan ulama dan santri di Indonesia. LP3ES.
Fikri, A. (2019). Patron-client relationship in Indonesian Islamic boarding schools. Indonesian Journal of Islamic Studies, 7(3), 145–162.
Juliyani, E. (2023). Peran alumni dalam pengembangan ekonomi pondok pesantren Sunan Drajat. Al Maqashid, 3(1), 23–36.
Kafid, N. (2017). Modernisasi pesantren dan tantangan hubungan kiai-santri. Tadris, 12(2), 112–128.
Mansurnoor, A. (1990). Islam in an Indonesian World: Ulama of Madura. LKiS.
Munawwir, M. (2019). Relasi sosial kiai dan santri dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 45–60.
Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
Rahmawati, S. (2021). Jaringan alumni pesantren dan kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat. Inferensi, 15(2), 255–275.
Siswanto, I., & Yulita, E. (2018). Eksistensi pesantren dengan budaya patronase (hubungan kiai dan santri). Mitra Ash-Shibyan, 2(1), 87–106.
Wahono, M., Budimansyah, D., Malihah, E., & Fitriasari, S. (2023). Peran modal sosial santri dalam menghadapi dampak globalisasi: Studi kasus Pesantren Buntet. Society: Jurnal Ilmu Sosial, 11(2), 377–397.
Azizah, Nur, and Sugiono Sugiono. 2025. “Social Modalities of Kiai in the Development of Islamic Boarding School.” Jemr 4(1):68–81. doi: 10.61987/jemr.v4i1.783.
Harnadi, Dodik, Hotman Siahaan, and Masdar Hilmy. 2021. “Pesantren and the Preservation of Traditional Religious Authority in the Digital Age.” Masyarakat Kebudayaan Dan Politik 34(3):272. doi: 10.20473/mkp.v34i32021.272-280.
Kutsiyah, Farahdilla, Lukmanul Hakim, and Ummu Kalsum. 2020. “Kelekatan Modal Sosial Pada Keluarga Santri Di Pulau Madura.” Palita Journal of Social - Religion Research 5(2):183–203. doi: 10.24256/pal.v5i2.1399.
Marzuki, Marzuki, Miftahuddin Miftahuddin, and Mukhamad Murdiono. 2020. “Multicultural Education in Salaf Pesantren and Prevention of Religious Radicalism in Indonesia.” Jurnal Cakrawala Pendidikan 39(1):12–25. doi: 10.21831/cp.v39i1.22900.
Nurhadi, Imam. 2018. “PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PONDOK PESANTREN UNTUK MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT: Studi Kasus Pemberdayaan Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Munjungan.” Al-Idarah Jurnal Kependidikan Islam 8(1):142. doi: 10.24042/alidarah.v8i1.3085.
RAHMAWATI, IFAH. 2022. “The Tradition of Reading Wirid Surat Al-Fatihah as a Gift on the Birthday of Kyai at Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Sampangan Pekalongan.” doi: 10.31219/osf.io/qcnu5.
Sadiah, Dewi. 2022. “Developing Pesantren Education Quality Through Radicalism Prevention Program for Santri.” Jurnal Pendidikan Islam 8(1):63–74. doi: 10.15575/jpi.v8i1.17947.